Upaya Manusia Mencari Damai Sejahtera
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Daftar Renungan GKJ Manahan
Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Merasa paling berjasa, merasa paling tahu dan merasa paling berhak! Itulah perasaan dan keyakinan banyak orang tua zaman ini terhadap anak-anaknya. Tidak sedikit orang tua yang menentukan: anakku harus jadi ini atau itu, harus sekolah di mana, harus les apa, anakku harus mendapat rangking dalam kelas, harus pinter ini-itu. Mereka marah kalau anaknya tidak menurut, bahkan kalau anaknya memilih lain dari keinginan orang tua. Melalui bacaan leksionari minggu ini, gereja mengajak para orang tua meneladan keluarga kudus.

Hari ini kita sudah memasuki Minggu Advent yang ke 2 yang ditandai dengan penyalaan 2 lilin advent, di beberapa tempat suasana menyambut Natal sudah semakin terasa. Banyak jemaat sudah mulai mempersiapkan diri, baik melalui rapat-rapat, latihan koor atau pun melakukan koordinasi dalam bentuk lain. Memang dalam menyambut kehadiran Tuhan baik dalam perayaan Natal maupun kedatangan Tuhan yang kedua kalinya kita perlu mempersiapkan diri. Semakin kita mempersiapkan diri, semakin kehadiranNya memberi makna dalam hidup kita.

Jemaat yang terkasih,
Masa Depan adalah sebuah misteri yang menyelimuti setiap kehidupan seseorang. Meskipun banyak di antara manusia memiliki agenda yang akan dilakukan. Namun yang terjadi hanyalah sebuah kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan besar dapat terlaksana, akan tetapi juga ada kemungkinan tidak terlaksana. Sehingga meskipun manusia memiliki rancangan, namun belum tentu sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebagian besar ketika seseorang mengalami kenyataan semacam ini, maka munculah kebimbangan dan putus asa. Keadaan inilah yang menyebabkan seseorang dapat menghentikan langkah kehidupannya. Terlebih pada saat-saat ini, banyak orang menerima berbagai macam desakan kehidupan yang acapkali tidak sesuai dengan harapan yang ada. Biaya kebutuhan hidup yang semakin meningkat yang di dalamnya meliputi: biaya pendidikan yang tidak murah dengan berbagai kompetisi yang ada; biaya pemenuhan fasilitas hidup seperti rumah, kendaraan dll. Ditambah lagi dengan berbagai persoalan kehidupan yang menyangkut relasi antar individu. Semakin memberikan kemungkinan bagi seseorang mengalami kebimbangan dan putus asa.

Apakah saudara seorang pemimpin? Bukan, saya bukan pemimpin, saya orang biasa, hanya anggota, demikian jawab seorang Bapak. Dia bukan ketua RT atau pengurus suatu panitia, dia juga bukan pengurus gereja. Banyak yang menyetujui pandangan bahwa dirinya bukan pemimpin karena dia bukan ketua atau pengurus paguyuban, padahal setiap orang adalah pemimpin. Paling tidak setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Kita sering mendengar dan bahkan berkomentar bahwa "mengikut Yesus tidak mudah", tapi benarkah "mengikut Yesus tidak mudah"?. Mungkin ada yang setuju atau tidak setuju.
Mengikut Yesus itu tidak mudah, misalnya jika hal mengikut Yesus itu orang harus melakukan segala kebaikan, jika mau diselamatkan maka harus melakukan perintah agama dengan sempurna, hal tersebut membuat seakan apa yang dilakukan Yesus sendiri menjadi pola agama pada umumnya. Hal ini jelas menjadi kontras jika dibandingkan dengan Tuhan Yesus yang menderita dan mati di kayu salib, yang semuanya itu dilakukan demi pengampunan dosa atas manusia. Tidak setuju, sebab ada dimensi lain apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dalam penyelamatan tidak sama dengan perintah agama.

Tema pembicaraan Minggu ini adalah mengikut Tuhan dengan setia. Dalam tema tersebut terkandung tuntutan supaya jemaat setia kepada Tuhan: tetap dan teguh hati mengikuti Tuhan Yesus Kristus meskipun menghadapi tantangan yang besar dan tawaran yang menggiurkan. Dalam tema tersebut juga terkandung gambaran ketidaksetiaan yang bisa terjadi di tengah jemaat yang dikarenakan tantangan dan cobaan.
Para pemuda Blok XI GKJ Manahan kembali menggelar acara Persekutuan Pemuda hari Jumat (14/9) yang lalu. Bertempat di rumah Sdri. Tiara Vega, persekutuan pemuda ini dihadiri cukup banyak pemuda blok XI. Perenungan Firman Tuhan dalam persekutuan ini disampaikan oleh Bp. Bambang Waluyo Hadi dengan bacaan I Timotius 4: 11-16 sebagai dasar.
Di awal renungan yang disampaikannya, jika dewasa ini kita membicarakan tentang keteladanan, rasanya seperti mimpi di siang bolong. Banyak pemimpin dalam berbagai tingkatan di institusi yang seharusnya menjadi teladan, tetapi sangat disayangkan baik moral, hidup dan tindakannya sangat tidak terpuji. Antara ucapan dan tindakan tidak sesuai.

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5: 1) Demikian ayat nats yang menjadi dasar perenungan dalam persekutuan pemuda blok XI hari ini, Jumat (10/8) di rumah Bp. Bagyo Sucahyo. Dalam persekutuan pemuda ini, Bp. Dwi Danan, MM selaku pengajar firman Tuhan mendasarkan perenungan firman juga dari bacaan Injil Yohanes 8: 30-36. Dijelaskannya dalam renungan yang disampaikannya mengenai definisi merdeka. Dalam bahasa yunani, kata merdeka diungkapkan sebagai ‘elioteria’ yang berarti kemerdekaan dari perbudakan. Orang merdeka berarti orang yang terbebas dari perbudakan.
Lantas, orang Kristen dibebaskan dari apa? Roma 8: 1-2 menyatakan bahwa orang percaya dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut. I Yohanes 3: 4 mendefinisikan dosa adalah pelanggaran hukum Allah. Hukum Allah yang berupa hukum kasih, yang jika kita tidak melakukannya merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah. Di dalam kasih, terdapat usaha untuk menyenangkan hati orang yang dikasihi dan berusaha pula tidak menyakiti. Demikian seharusnya kita mengasihi Allah dan sesama kita.